Heaven

 


Banyak sekali orang yang mengaku beragama dan mengaku seumur hidupnya selalu berbuat baik demi tujuan akhir suatu tempat yang kekal abadi penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan dan diberi nama surga, namun pada prakteknya, orang yang mengaku beragama ini malah membuat dunia manusia penuh dengan perdebatan, perbudakan, peperangan, drama dan banyak masalah lainnya, sehingga bisa dibilang mereka membuat hidup di dunia manusia ini serasa neraka, namun mereka berharap bisa masuk surga.

Pada kenyataan dan prakteknya, saya hidup di dunia manusia ini memang terasa seperti neraka, penuh perdebatan dan keributan gak jelas, banyak orang serakah, egois dan selalu merasa paling benar,dan ketika dalam kondisi tersulit, kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri karena manusia kebanyakan selalu mencari selamat sendiri, hidup bersama keluarga, saudara dan teman dekat, bukanlah jaminan bebasa dari masalah dan merasa bahagia, apalagi kalau kita hidup dengan orang toxic dan penuh drama, yang selalu menyakiti perasaan kita setiap hari, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dilewati dengan rasa sakit yang kian menumpuk, rasa sakit tersebut terasa di dalam jiwa dan tidak pernah hilang, oleh karena itu banyak sekali manusia yang memilih bunuh diri.

Dan saya adalah termasuk orang yang sudah mencoba bunuh diri, namun diselamatkan, namun hal itu tentu saja tidak membuat saya merasa bahagia atau bersyukur, rasa sakit itu masih ada, berasal dari orang yang toxic dan penuh dengan drama, orang yang datang selalu berbeda-beda, namun selalu menambahkan rasa sakit yang sama.

Dalam hati saya, apakah ada jalan selain bunuh diri yang bisa menghilangkan rasa sakit didalam jiwa kita.

Seringkali orang yang membawa rasa sakit tersebut adalah orang terdekat, bisa pasangan bisa keluarga, banyak orang yang memilih bunuh diri, dan ada juga orang yang memilih kabur dan menghilang.

Namun saya berani jamin, rasa sakit itu tidak akan pernah hilang, selagi dunia manusia dipenuhi dengan perbudakan, politik, sex, agama, pernikahan, uang, hutang, handphone dan banyak hal primitive lainnya.

Disaat titik nadir hadir di dalam kehidupan saya, tidak adanya cinta dan kasih sayang, ditambah tidak adanya uang, membuat saya berpikir ingin mengakhiri hidup, namun yang saya takutkan adalah terjebak kembali di dalam dunia yang sama dengan rasa sakit yang sama dan berulang-ulang.

Apakah ada dunia lain tersebut? Dunia bebas dari perbudakan, rasa sakit dan sifat-sifat jahat manusia, apakah dunia itu harus kita nikmati setelah kita mati.

Konon apa yang kita rasakan didalam dunia ini, hanyalah persepsi kita dari indera perasa, rangsangan-rangsangan yang ditangkap oleh sensor indera perasa kita disampaikan oleh aliran listrik dalam bentuk pesan dan diproses di dalam otak, lalu otak akan memberikan beberapa pilihan yang apabila kita pilih akan menjadi suatu pola dalam tindakan, dan seringkali juga apa yang kita rasakan, emosi sedih, bahagia, marah dan cemas, terkadang muncul karena adanya efek dari hormon tertentu yang diproduksi oleh tubuh kita sendiri.

Segala macam memori, emosi, pikiran dan tindakan, semuanya tersimpan di dalam otak manusia dan ketika kita meninggal, otak tersebut melebur, dan informasi-informasi tentang memori ingatan, emosi, perasaan, dan pola tindakan kita konon katanya masih tersimpan di dalam DNA manusia, dan terkadang apabila beruntung DNA manusia tersebut bisa menjadi satu dengan suatu media dan apabila media tersebut terserap oleh seorang bayi atau anak kecil, maka memori, ingatan, perasaan, emosi dan ingatan hal detail lainnya bisa diingat oleh anak kecil tersebut, dan pada suatu saat memori tersebut akan menghilang, banyak yang mengira hal ini adalah suatu fenomena kelahiran kembali atau reinkarnasi.

Namun bagi saya ketika kita meninggal, ketika otak kita mati, diri kita sebenarnya juga sudah berakhir.

Ditengah deraan cobaan dan masalah hidup, saya menjadi pemenang untuk bisa menuliskan hal ini, untuk berbagi pengalaman saya, ada surga yang tidak tersentuh oleh manusia, mungkin ada beberapa manusia yang mengetahuinya, mungkin ada beberapa orang yang sudah berbagi pengalaman indah ini.

Penemuan saya akan surga, setitik surga ditengah tengah lautan neraka, surga yang tersembunyi dan rahasia, yang bisa dirasakan dan bisa dinikmati manusia, suatu harapan yang nyata, surga nyata, bisa dinikmati tanpa harus kita mati terlebih dahulu.

Kunci surga itu adalah kesadaran, kesadaran bahwa kita adalah bagian dari alam semesta dan tanpa harus matipun kita adalah bagian dan sudah menjadi satu kesatuan dari alam semesta, dan kita harus bersekutu dengan hukum alam semesta.

Dengan kunci kesadaran, kita akan bisa mengendalikan alam di dalam pikiran kita, surga yang jarang tersentuh oleh manusia, yang saya tawarkan ini bukanlah alam mimpi, bukanlah lucid dream, tapi koneksi pikiran diri kita sendiri dengan diri kita sendiri yang hidup di belahan dunia lain, ruang dan waktu berbeda, bahkan dimensi yang berbeda.

Bukan lucid dream dimana kita bisa mengendalikan setiap elemen didalam mimpi kita, sehingga kita merasa menjadi Tuhan didalam dunia kita sendiri

Bukan juga dunia ketika kita sedang dalam kondisi koma

Bukan juga mimpi biasa dimana kita selalu mendapatkan gambaran kehidupan random dengan gambaran yang unik dan fantastis.

Yang saya alami adalah ketika saya tertidur, saya sedang menjalani kehidupan di dalam dunia lain, saya terkoneksi dengan diri saya sendiri yang hidup di dunia lain, dengan bahasa dan kebudayaan berbeda dengan dunia manusia, dimana di dunia itu saya menjalani aktivitas saya seperti layaknya saya menjalani aktivitas kehidupan saya di dunia manusia, di sana saya menjalani kehidupan dimana saya tidak merasakan rasa takut, rasa cemas, rasa khawatir dan rasa sakit seperti di dalam dunia manusia, disana saya menjalani kehidupan yang hanya sekedar bertahan hidup, makan dan berkembang biak, tanpa adanya tanda-tanda perbudakan uang, agama, pernikahan, politik, handphone dan hal lainnya yang bersifat sia-sia, membawa saya kepada suatu kondisi jiwa yang merasa lebih bahagia dan nyaman, dan yakin bahwa ada dunia dimana yang bisa saya rasakan apabila saya tinggal didalamnya, saya merasakan rasa nyaman dan rasa bahagia, saya juga merasa menyatu secara utuh dengan alam semesta dan tidak merasa sia-sia dalam menjalankan kehidupan.

Tidak perlu menjadi orang suci ataupun nabi untuk bisa mengakses koneksi kehidupan diri kita sendiri yang berada di dunia lain, tidak perlu menunggu mati terlebih dahulu, tidak perlu mengikuti aturan agama yang tidak masuk akal, yang diperlukan hanyalah kesadaran, kesadaran kita bahwa adalah mahluk alam semesta dan menjadi bagian dari alam semesta, kita menyatu dengan alam semesta dan memahami prinsip serta hukum alam semesta.

Ketika kita mati, memori kita hilang habis menyatu dan membaur dengan alam semesta, dan kehidupan kita, memori kita hanyalah menjadi cuplikan mimpi random di dalam diri kita yang masih hidup di dunia lain, di ruang dan waktu yang berbeda, di dimensi yang berbeda.

Saya sudah menang untuk bisa mencatat dan berbagi pengalaman saya ini, saya sudah menang untuk bisa sadar dan mempunyai kesadaran untuk bisa keluar dari perbudakan dan kehidupan sia-sia oleh umat manusia.

Mencari uang mati-matian untuk tempat tinggal, makan, dan hal yang tidak ada gunanya, tidak ada habisnya seperti handphone atau trend fashion, atau trend mencari uang yang silih berganti saat ini trend isntagram, besoknya trend jualan ikan, trend jualan ikan mati ganti trend jualan entahlah.Saya hanyalah menjadi saksi keserakahan dan kejahatan konglomerat yang dipuja-puja layakanya Tuhan, padahal mereka hanyalah tuan dan manusia lainnya hanyalah budak, hidup susah, hidup ngontrak, biaya kesehatan mahal, manusia toxic, kaum agamis yang agresif, selalu merasa benar karena mayoritas.

Hidup di dunia manusia adalah neraka, matipun segalanya selesai, yang berubah hanyalah energy kita saja menjadi bentuk energy yang lain yang nantinya terpakai untuk proses kelangsungan alam semesta, memori dan perasaan hanyalah ilusi sesaat, dunia surga yang ada hanyalah hubungan dengan diri kita sendiri yang berada di dunia lain, karena kita manusia, adalah mahluk multi dimensional, mahluk alam semesta, yang hanya setitik kecil di alam semesta yang maha luas dan tidak berujung.

Saya tuliskan ini dalam bahasa manusia, namun saya yakin, tidak banyak manusia yang memahaminya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar