Pandangan tentang Covid-19 By: Franswiguna

 

 

Saya bukanlah seorang antivak, karena semua anak saya sudah hampir lengkap vaksinnya, sisanya juga belum di vaksin karena kondisi pandemi covid ini, disamping agak parno ke tempat imunisasi, biaya imunisasi juga cukup terganggu karena perekonomian yang ngedrop, jadi ada beberapa vaksin yang belum sempat dieksekusi. Kita juga harus fokus menghabiskan uang untuk hal-hal yang jadi skala prioritas tertinggi, seperti biaya sekolah anak contohnya, yang menurut saya ini beban terbesar padahal membuat anak makin bodoh dan cukup menganggu pekerjaan saya, karena saya dari dulu sudah kerja dari rumah, kalau anak ada di sekolah, itulah waktu saya bisa berkerja dengan tenang tanpa harus ada gangguan dari drama para bocil, dan juga selama sekolah system daring, banyak sekali saya yang turun tangan, otomatis pekerjaan saya jelas terganggu, dan selama para bocil tidak sekolah, otomatis tidur makin jadi larut malam, makin menjadi-jadilah saya, dimana jam-jam malam biasanya juga jadi jam berkerja saya, di dalam pekerjaan saya, saya butuh ketenangan dan kedamaian, bukan perang antar bocil. Jadi selain stress akibat kerjaan juga bertambah stress ngajarin anak, dan juga saya harus bayar tanpa diskon.

Mortality rate covid-19 antara 2,5%-5% dan juga kalau secara global dihitung tingkat kematiannya saja dari sebelum covid sampai selama pandemi covid, tidak meningkat secara signifikan, kalau mayat bergelimpangan dimana-mana dan tingkat kematian mencapai 25 juta jiwa seperti pandemi black death (1346-1353) baru deh saya khawatir, lah wong yang meninggal aja rata-rata komorbid, dan juga disini antibodi juga mengambil peranan penting. Cuma pada intinya, orang kalau kena covid bisa terinveksi kembali, dan katanya kalau sudah sembuh cuma bisa bertahan 3 bulan, lalu kalau vaksin bagaimana, lah wong WHO aja belum jelas dan belum ada datanya.

Kalau saya menghadapi Covid ini, selain menjalani protokol, minum vitamin dan olahraga, saya juga fokus di meditasi dan stress management, saya rasa ini yang terpenting, minimal saya masih bisa waras menghadapi kejadian bodoh bertubi-tubi di negeri ini.

Orang lebih banyak yang mati karena bunuh diri akibat stress depresi dan mati kelaparan gara-gara ekonomi tengkurep, ditambah lagi kita negara Indonesia yang pemerintahannya masih belum bersih dari korupsi sampai dana bansos aja digarap.

Intinya, saya punya impian kalau dunia ini kiamat yah minimal kayak di film film lah, tapi kalau saat ini, dunia kiamat akibat kebodohan manusia itu sendiri, dari merusak alam sampai merusak kemanusiaan dengan perbudakan modern, gimana bukan perbudakan, yang bertahan cuma orang kaya dari sononya, alias terlahir kaya, sisanya bisa kaya cuma modal hoki, kalau usahanya gak hancur, banyak sekali usaha yang timbul tenggelam, tadinya trend batu, trend sepeda, trend marketplace, trend cupang, semua trend itu suatu pertanda system  perekonomian yang dasarnya tidak kuat, karena trend tersebut tidak bertahan lama dan tidak mampu menopang kehidupan dalam jangka waktu yang panjang.

Dan sekarang trend cari duit dari pandemi corona

Ditambah lagi di Indonesia banyak noob dan banyak ahli dadakan soal agama, padahal bodohnya kebangetan atau mungkin mereka cari duit dari agama. Indonesia dari dulu cuma berkutat di masalah agama, dan gak maju -maju, sangat sulit mencari hasil buah pikir yang keren dan mantap dari orang Indonesia, walaupun ada sudah kabur keluar negri, pinter kan, karena orang Indonesia itu tidak punya kemampuan menghargai pemikiran jenius, yang dihargai cuma pengetahuan soal agama.

Saya mungkin tidak bisa meramal kapan pesawat jatuh atau kapan terjadinya banjir atau gempa, karena semua itu pasti kejadian setiap tahun, sama kayak artis cerai, mati atau ketangkap karena narkoba, setiap tahun pasti ada!!!

Tapi yang pasti saya bisa berhitung, Indonesia dan dunia endingnya seperti apa kalau kebodohan dan perusakan alam masih dipertahankan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar