Terapi Kanker


Pada suatu hari saya kedatangan tamu sepasang suami istri, mereka mengucapkan terima kasih sambil membawa kue, "Terima kasih suhu" sang istripun mengucapkannya sambil tersenyum dan memberikan sekotak kue.

Saya masih ingat dulu sang suami datang ke kediaman saya pada malam hari, sambil menangis dan memohon saya untuk menyembuhkan istrinya yang saat ini tidak sadarkan diri di Rumah Sakit, namun apa daya karena saya adalah seorang Atheist, tidak percaya kekuatan doa dan kekuatan Tuhan, saya hanya bisa berkata "Tenangkan pikiran dulu, setidaknya pikiran kita harus memancarkan gelombang pikiran ketenangan, dari situ pelan-pelan keadaan akan mulai membaik." Akhirnya pelan-pelan sang suami menceritakan kondisi istrinya yang saat itu sudah terkena kanker payudara stadium 4 dan sudah menjalani kemotherapy, tapi tampaknya tidak membuahkan hasil yang cukup baik, ditambah lagi pernyataan dokter yang menyatakan mereka sudah berbuat maksimal untuk menolong istrinya.

"Apa yang akan suhu lakukan?" Tanya sang suami kepada saya, saya terdiam lalu berkata "Saya akan coba dengan cara yang saya tahu, namun saya tidak bisa memberikan janji apa-apa, kalau berhasil, istri kamu pasti akan sadar dan akan baikan."

Sambil memberikan Angpao, sang suami akhirnya pamit pulang dari kediaman saya, tapi tentu saja, angpaonya saya tolak, begitu banyak pertimbangan kenapa saya menolak angpao tersebut, ada perasaan tidak enak, ada perasaan tidak yakin akan berhasil, dan tentu saja hati nurani ini sangat berat untuk menyusahkan orang yang sedang kesusahan.

Tidak terasa, sudah dua minggu berlalu, akhirnya sang suami menelepon saya dan menanyakan kabar saya dan apakah saya ada dirumah karena dia ingin berkunjung ke rumah saya bersama dengan istrinya, saya kaget bercampur senang, dan penasaran juga akan kondisi istrinya.

Akhirnya mereka datang pada malam hari, tentu saja saya merasa sangat senang sekali akan kedatangan istrinya. Istrinya mengucapkan "Terima kasih suhu, saya sudah agak mendingan tapi kankernya belum hilang, saya sudah bisa sadar dan beraktifitas dengan normal kembali, kata suami saya ini berkat suhu", tapi saya bilang "Semuanya berkat usaha kita semua dan team dokter, perjuangan kamu dan suami kamu."

Saat itu kami membahas bagaimana caranya menaklukan sel kanker ganas di dalam tubuh istri client saya.
Pada intinya yang paling penting untuk bisa sembuh dari kanker adalah pada dasarnya mentalitas, rata-rata pasien penderita kanker selalu ingin merasa dikasihani, dan setelah mendapat rasa kasihan dari anggota keluarga atau dari teman-temannya, mereka merasa nyaman, dan tidak ingin perhatian tersebut itu hilang.
Kecanduan akan rasa diperhatikan dan dikasihani adalah mental blocking dalam penyembuhan kanker.
Banyak sekali pasien kanker yang pada akhirnya meninggal karena sepanjang mereka menderita kanker, selalu mendapatkan perhatian yang terlalu berlebihan, dan juga mereka merasa nyaman dan terbiasa akan rasa perhatian tersebut.

Selain rasa diperhatikan, rata-rata pasien kanker selalu merasa ketakutan, ketakutan akan dioperasi dan kehilangan anggota tubuhnya, ketakutan akan meninggal dan kehilangan orang-orang terdekat yang dikasihi. Dan sudah pasti rasa takut ini juga menjadi mental blocking yang terbesar dalam penyembuhan kanker, apabila rasa takut itu menang dan memperbudak pasien, sudah dapat dipastikan bahawa mereka pasti akan meninggal akibat penyakit kanker.

Setelah rasa ketakutan, adalah rasa kecemasan, cemas akan masa depan, cemas akan kondisi ekonomi, cemas akan pasangan, dan cemas akan segalanya, kecemasan ini membuat pikiran tidak tenang dan menentu, pikiran menjadi liar dan tidak menentu kemana arah larinya, hal ini juga harus diperhatikan dalam kesembuhan pasien kanker, kecemasan tidaklah memberikan solusi, ketenanganlah yang memberikan solusi.

Mudah menyerah, putus asa, dan tidak konsistensi dalam menjalankan terapi penyembuhan, adalah halangan yang terbesar, rata-rata para pasien berhenti ditengah jalan, hilang motivasi dan semangat, kebanyakan para pasien kanker yang ingin mengikuti terapi saya saya wajibkan untuk berkomitmen sepanjang waktu terapi, rata-rata memakan waktu 3 sampai 6 bulan lamanya, untuk bisa terbebas dari kanker.

Dalam segi spiritual, yang disembuhkan dari pasien kanker adalah mentalitasnya dulu, emosi-emosi negatif yang menghalangi proses penyembuhan, karena dasar dari penyembuhan adalah mentalitas yang baik, dimulai dari ketenangan hati, kesabaran, mempunyai semangat daya juang, tidak ingin dikasihani, mandiri, konsisten dan masih ingin menjalani bahtera kehidupan.

Inilah yang paling penting

"Masih ingin menjalani kehidupan."

Rata-rata pasien kanker yang meninggal, saya lihat juga seringkali memendam kebencian kepada anggota keluarganya atau orang-orang terdekatnya, bisa pasangan ataupun teman dekatnya, dan seringkali mereka terlibat konflik keluarga yang berkepanjangan, merasa tertekan, stress, depresi, perasaan diterror, dan bahkan seringkali mereka merasa penyakit kanker adalah suatu jawaban bagi persoalan hidup mereka, karena mereka tidak menemukan solusi dalam permasalahan hidupnya sehingga seringkali kanker dan kematian dianggap menjadi solusi yang tepat.

Ya benar, mereka yang meninggal karena kanker bisa juga karena mereka benar-benar ingin mati dan meninggalkan kehidupan karena selalu dipenuhi dengan masalah.

Seringkali mereka yang meninggal karena kanker mempunyai suatu karakteristik yang sama, yaitu idealisme absurd yang tidak logis, tidak masuk akal, selalu merasa benar dan memaksakan kehendak.
Hati yang keras, tidak ikhlas, selalu cemas, dan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting.

Selalu merasa kekurangan, selalu merasa tidak bahagia, dan selalu merasa jadi korban.

Jadi bisa dibilang fondasi dasar dari kesembuhan kanker, saya akan mulai dari pelajaran spiritual dan mentalitas terlebih dahulu, karena hal-hal mendasar inilah yang mempengaruhi kesembuhan pasien kanker, baru setelah itu memasuki taraf terapi, terapi disini adalah kita kembali lagi ke alam dan menyatu dengan alam semesta, serta membangkitkan kemampuan self healing yang dimiliki dari manusia.

Alam semesta itu memiliki prinsip keseimbangan, dimana kita ketahui kanker adalah hasil dari ketidak seimbangan, sel yang harusnya mati, tetap hidup, sel yang belum terlahir kembali, malah lahir. Ketidak seimbangan inilah yang harus dibetulkan.

Selain itu alam semesta juga bersifat repetisi atau pengulangan, gaya hidup yang salah dan berulang-ulang akan dibetulkan

Biasanya pasien kanker yang sudah sembuh dengan cara terapi dan bimbingin spiritual yang saya berikan, bisa ditest kembali sel kankernya masih ada atau tidak, dan saya bisa pastikan selama gaya hidup yang positif dan pemikiran yang positif diterapkan maka sel kanker tidak akan kambuh lagi seumur hidup, namun apabila gaya hidup dan pemikiran lama ditekuni kembali, maka kemungkinan besar sel kanker akan kambuh kembali.

Mungkin kalian penasaran akan kelanjutan cerita dari sepasang suami istri di awal cerita ini, pada akhirnya sang istri sembuh dan memeriksakan hasil testnya, seperti biasa, tidak ditemukan sel kanker, dan sang istri sembuh total dan menjalankan aktifitasnya dengan normal, dan sampai saat ini sang suami masih menjadi teman dengan saya.

Dalam proses penyembuhan ini seringkali saya merasa tidak enak untuk menetapkan tarif, ada perasaan tidak enak yang mengganjal dihati, tidak mau menyusahkan orang yang sudah susah, namun terus terang seiring berjalannya sang waktu, banyak sekali barang-barang kebutuhan harganya menjadi naik, dan hidup didunia ini segala sesuatunya memerlukan uang, biasanya dalam menyembuhkan kanker saya membutuhkan biaya Rp.50.000.000,- biaya ini saya butuhkan untuk membeli kebutuhan bahan-bahan ritual, biaya operasional, membantu client yang tidak mampu dan juga untuk kebutuhan hidup saya pribadi.

Disclaimer :
Hasil yang didapatkan mungkin berbeda-beda tergantung dari situasi, kondisi keadaan, dan status kesehatan tubuh masing-masing pengguna.

No comments:

Post a Comment