Pedagang Krupuk Rasa Kasihan


Sambil menikmati Bakmi Apen yang enak banget, rasa babinya yang gak begitu eneg, sangat pas sekali di lidah, tiba-tiba selera makan saya tertuju pada seorang tua yang kira kira sudah berumur 50 an, ngkoh ngkoh jualan kerupuk dan kripik, sambil menawarkan kerupuk dan kripiknya, tentu saja saya menolak, mungkin lain halnya kalau dia menawarkan minuman dingin, karena di bakmi Apen tidak tersedia minuman dingin yang bervariasi, palingan es teh tawar. Sekilas saya melihat produk yang ditawarkannya, terlihat seperti product yang sudah ratusan kali di reject, dan kelihatannya juga sudah tidak fresh.

Tentu saja saya malas beli produk seperti itu dan ditambah lagi harganya tidak masuk akal,
Rp. 15.000,- untuk sekantong kerupuk yang melempem, dan Rp.35.000,- untuk sekantong kripik yang melempem juga.

Tapi ada kejadian menarik dimana dia memberikan rotinya kepada anak saya yang baru berusia 2 tahun, si Olin, tentu saja si Olin tidak menolak, saya yang menolak, lalu si ngkoh ngkoh pedagang kerupuk bilang gak apa-apa, wah, dalam hati saya, kasihan nih orang, dagangannya gak laku, gak ada strategi marketing, pasti kantong cekak banget, malah kasih rotinya ke anak saya, yang makannya serba kecukupan, walaupun pada akhirnya roti yang diberikan bukannya dimakan sama si Olin tapi malah jadi sasaran tusukan puluhan tusuk gigi menancap di rotinya.

"Kasihan..."

"Udah deh, saya beli aja kerupuknya" kali ini sambil menatap kecut tatapan mata tajam dari wonder woman alias istri saya. Karena dia tahu di dalam bathinnya "Makanan yang di jual si ngkoh ini gak beres". Tentu saja istri saya bisa tahu bukan karena dia mempunyai kekuatan supranatural ala dukun atau ala superheroes, tapi dia sudah tahu dari gosip yang beredar di kedai mie Apen.

Pada akhirnya, istri saya memutuskan untuk memberitahu bahwa kerupuk yang dijual sudah tidak layak makan, melempem bin alot, dan terdengar sayup-sayup bisikan nci-nci yang sudah beli keripik seharga Rp.35.000,- karena merasa "Kasihan" kasihan karena kata sang penjual kerupuk, yang buat keripiknya ibunya yang sudah tua renta, lagi-lagi kata-kata"Kasihan" terlontar dari mulut mereka.

Istri saya ditawarkan untuk tuker baru atau dikembalikan uangnya, tentu saja semua opsi itu ditolak dengan mentah-mentah oleh istri saya, karena sudah pasti kerupuk yang lainnya juga gak beres dan alot, dan juga dia tidak akan tega menerima uangnya, karena istri saya merasa tidak berhak untuk merampas rejeki seseorang.

Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di dalam benak saya, kenapa begini, kenapa begitu, kenapa sih si ngkoh ngkoh jualan kerupuk yang alot, bukannya jual minuman aja, atau jual sesuatu yang lain, mbok ya diriset terlebih dahulu.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan, ah, dia marketing kerupuk rasa kasihan, entahlah mungkin karena usianya yang sudah cukup senja, kemampuan fisik yang sudah menurun, dan kemampuan otak yang tampaknya sudah lelah dalam berpikir.

Terlintas dalam benak saya, orang ini masih jauh lebih baik dari pada teman saya yang anak orang kaya, kerjaannya ongkang-ongkang kaki dapat duit dari hasil kerja keras orang tuanya, usia sudah cukup tua untuk berkeluarga, namun tidak berkerja keras dalam usahanya.

Si ngkoh ngkoh penjual kerupuk rasa kasihan ini kalau dinilai dari segi usahanya, masih sedikit jauh lebih baik daripada orang yang tubuhnya sehat tapi gak ngapa-ngapain. Atau bahkan kasta ngkoh ngkoh penjual kerupuk rasa kasihan ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan para penjual getuk cantik, penjual kopi cantik, atau nenek-kakek pedagang yang diviralkan oleh para netizen dengan tagline "KASIHAN". Syah-syah aja sih, namanya juga cari rejeki yah.

"Kasihan"

Ternyata "KASIHAN" bisa dijual dan dibungkus dengan tehnik marketing sedemikian rupa

No comments:

Post a Comment