Mengapa Ahok harus turun?

Tulisan ini saya tujukan hanya untuk yang cerdas saja, bagi pengikut Jokowi dan Ahok yang urat logikanya sudah putus dan cenderung ke arah emosional dan tidak cerdas, silahkan jangan dibaca.

Pertama, saya bilang Ahok itu tidak salah, dia tidak menistakan Agama, itu menurut logika saya yang masih sehat dan menurut logika saya kalau saya beragama

Kedua, lantas kenapa Ahok bisa salah?
Alam semesta ini tidak buta, tim media Ahok yang selalu menggoreng berita Ahok, selalu mengangkat isyu Agama, dimana disitu banyak pengikut fanatiknya.
Jadi salahnya dimana? Agama please jangan diutak atik, apa yang kamu tanam akan kamu tuai

Ketiga, pemeluk Islam pada dasarnya pecinta damai, dan seringkali disusupi faham terorisme atau faham radikal, pemeluk Islam sudah berdampingan secara damai sejak dulu kala dengan pemeluk agama lain, buktinya tidak terjadi kerusuhan dan bom bunuh diri setiap hari, kalaupun ada kerusuhan atau pemboman, itu semua ulah teroris, dan rakyat Indonesia sudah cerdas bisa membedakan yang mana teroris dan yang mana yang beragama Islam

Lantas pertanyaan saya yang terakhir, kenapa Ahok harus turun atau rela tidak menjadi gubernur?

Selama ini Ahok yang menjadi media darling, memang secara fakta mampu berkarya nyata dan berjasa kepada rakyat Jakarta, namun menurut saya hasilnya masih biasa-biasa saja, tidak signifikan, namun kalau dibandingkan dengan gubernur-gubernur yang dulu, termasuk signifikan dan itu termasuk juga Jokowi yang dulunya jadi gubernur. Ketidak mampuan Ahok adalah ketidakmampuan dalam memanage emosinya dan pengaturan kata-katanya yang menurut saya tidak dewasa dan tidak bijaksana, walaupun hal ini sudah disetting sedemikian rupa oleh tim media Ahok.
Agama adalah suatu hal yang sangat sensitif, dimana dunia ini yang masih primitif dan penuh dengan orang yang tidak mampu berpikir, penuh dengan orang miskin dan penuh orang emosional, memang jumlahnya banyak dan menyita perhatian. Walaupun Ahok secara kata-kata tidak salah, namun pemahaman orang yang berbeda atas kata-kata (khususnya rakyat yang tidak cerdas dan selalu emosional) akhirnya menjadi blunder media darling ini.

11 12 dengan sohibnya Jokowi, yang saat ini di kalangan pengusaha menyebutnya si "tukang kayu" bukan presiden, karena kemampuan managerial yang sangat minim karena terlalu banyak lobby-lobby politik menjadikan susunan kabinet Jokowi mengalami reshufle berulang kali layaknya judi capsa.

Memang menjadi pemimpin tidak mudah, namun kesalahan kita sendiri, karena memilih pemimpin yang menjadi media darling, bukan pemimpin yang mempunyai banyak jasa dan pengorbanan terhadap rakyatnya

Banyak sekali orang baik yang berjasa namun tidak punya uang untuk menjadi pemimpin, malahan saat ini mereka semakin langka karena kejujuran menjadi pedang bermata dua bagi mereka.

Kali ini saya menyebut orang-orang yang layak menjadi pemimpin karena jasa dan cinta kasihnya (untuk keterangan lebih detail, silahkan search google):

Budi Soehardi
Bang Alan ( M. Saleh Yusuf )
Puger Mulyono
Bripka Seladi

Mungkin nama mereka asing sekali, karena jarang diangkat media, namun kalau mereka menjadi pemimpin kita, mungkin rakyat kita menjadi lebih berbahagia, aman dan sentosa.

Kalau mereka jadi dicalonkan jadi presiden tentu saja, saya akan menggunakan hak pilih saya, jasa mereka sudah jelas, karena mengandung unsur cinta kasih

No comments:

Post a Comment